Rabu, 14 Juni 2017

MAKALAH RISET SDM
PENINGKATAN PEREKONOMIAN PARA PEDAGANG KAKI LIMA
DIKAWASAN JL. BOROBUDUR MALANG



Kelompok 7 :
1. Susiyana                         14101352
2. Devi Marta Dwi Lestari 14101319
3. Irgi riswandha widodo 14101377
4. Ika Bunga Analia                 14101369


SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI ASIA MALANG
JL.BOROBUDUR NO. 21 MALANG 65125
TELP.0341-478494
2017


KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalan tentang “peningkatan perekonomian para pedagang kaki lima Dikawasan jl. Borobudur malang” dengan tepat waktu. Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas matakuliah “ Riset SDM” .
Meskipun dalam penyusunan makalah ini penulis banyak menemukan hambatan dan kesulitan, tetapi karena motivasi dan dorongan dari berbagai pihak, sehingga makalah ini dapat terselesaikan sesuai dengan waktu yang ditentukan.
Penulis menyadari bahwa pada penulisan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik dari semua pihak yang membaca makalah ini yang berguna untuk kesempurnaan makalah ini.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak atas dukungannya sehingga terwujudnya makalah ini. Harapan penulis semoga makalah ini bermanfaat bagi semua pihak yang membaca.


DAFTAR ISI

COVER
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang...................................................................................... 1
2. Rumusan Masalah................................................................................. 1
3. Tujuan Penelitian.................................................................................. 2
BAB II TINJAUN PUSTAKA
1. Pengertian Riset Sumber Daya Manusia............................................... 3
2. Pengertian pedagang kaki lima............................................................. 4
3. Ciri/Kriteria pedagang kaki lima........................................................... 5
4. Profil pedagang kaki lima ..................................................................... 5
5. Faktor utama adanya pedagang kaki lima ............................................. 5
6. Pengaruh adanya pedagang kaki lima................................................... 6
7. Penghasilan pedagang kaki lima........................................................... 6
8. Alasan pedagang kaki lima mendirikan usaha tersebut........................ 6
9. Modal utama pedagang kaki lima......................................................... 7
10. Dampak positif pedagang kaki lima...................................................... 7
11. Kendala yang dihadapi ..........................................................................7
12. Solusi mengatasi kendala……………………………………...........…8
BAB III METODE PENELITIAN
1. Jenis Penellitian..................................................................................... 9
2. Teknik Sample...................................................................................... 9
3. Teknik Pengumpulan Data ................................................................... 9
4. Sumber Data ....................................................................................... 10
BAB IV PENUTUP
1. Kesimpulan................................................................................................11
2. Saran .........................................................................................................11
LAMPIRAN



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perekonomian Indonesia yang semakin berkembang di sertai dengan tingkat konsumsi masyarakat terhadap barang dan jasa yang semakin meningkat,di mana pasar sangat menentukan terpenuhinya kebutuhan primer maupun skunder, karena hal itulah para Produsen berlomba-lomba untuk menyediakan Barang atau Jasa yang dapat memenuhi kebutuhan konsumen. Seiring dengan kebutuhan yang semakin meningkat menyebabkan banyak masyarakat berusaha membuka usaha guna memperoleh keuntungan yang besar tapi dengan pengeluaran yang sekecil mungkin, hal inilah yang meprakasai meningkatnya Pedagang Kaki Lima (PKL) di jln. Borobudur, Malang.
Terkadang kemunculan PKL juga membawa dampak positif sebagai contoh mempermudah akses pasar bagi konsumen, barang yang di jual lebih murah, dan tidak jauh dari jalan, tetapi dampak yang di timbulkan juga sangat besar sebagai contoh kemacetan jalan raya di mana dapat mengganggu aktifitas kegiatan yang menggunakan jalan raya, sampah yang menumpuk, polusi udara, dan masih banyak lagi. Tetapi di daerah jl. Borobudur ini pedagang kaki lima (PKL) sudah mendapatkan izin dari pemkot Malang, dan tempat mereka berjualan tidak mengganggu lalu lintas disekitar tempat mereka berjualan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka penulis mengidentifikasi permasalahan sebagai berikut:
1. Apa alasan bapak mendirikan PKL tersebut?
2. Berapa penghasilan yang diperoleh pedagang tersebut dengan adanya pekerjaan pedagang kaki lima?
3. Dari mana modal yang didapatkan untuk mendirikan PKL?



4. Bagaimana awal bapak/ibu bisa berdagang kaki lima?
5. Apa saja kendala yang diadapi pedagang kaki lima ini?
6. Bagaimana solusi dari kendala tersebut?

C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan tersebut, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui apa alasan pedagang mendirikan PKL tersebut.
2. Untuk mengetahui tingkat pendapatan pedagang semenjak menjadi pedagang kaki lima.
3. Untuk mengetahui dari mana mereka mendapatkan modal utama.
4. Untuk mengetahui asal mula pedagang mendirikan PKL tersebut.
5. Guna mengetahui permasalah yang sedang dialami pedagang kaki lima.
6. Guna mengetahui solusi dari permasalah terseb
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Riset Sumber Daya Manusia
Secara umum riset dijalankan dengan tujuan menghasilkan informasi, informasi ini dibutuhkan untuk para manajer,pengertian/defenisi riset SDM adalah semua kegiatan yang melibatkan proses perencanaan, pengumpulan, penganalisaan, dan pelaporan informasi, dengan tujuan memperbaiki pembuatan keputusan yang berkaitan dengan pengidentifikasian, pemecahan masalah dan penentuan peluang dalam SDM.
ada beberapa point utama yang termuat dalam pengertian riset SDM, yaitu
1. terdiri atas bebrapa tahap, merupakan suatu proses
2. hasil akhir berupa informasi,
3. ditujukan untk membantu pengambilan keputusan manejemen SDM
Riset SDM diharapkan memberikan informasi berkualitas sebagai kompas atau alat bantu pengambilan keputusan. informasi dikatakan berkualitas jika memenuhi kriteria relevan, akurat, realibel, valid dan aktual yang berguna bagi manajemen.
Relevan berarti informasi yang disediakan berhubungan dengan masalah riset SDM.
Akurat menunjukkan tingkat ketepatan informasi yang diberikan
Realibel berarti informasi tersebut dapat dipercaya kebenarannya
Valid menunjukkan informasi tersebut memiliki kekonsistenan.
aktual artinya informasi masih baru atau tidak ketinggalan zaman, sehingga masih sesuai dengan konteks waktu saat keputusan akan dibuat.
Tahap-Tahap Riset SDM
Untuk menyediakan informasi yang realibel, Riset SDM menggunakan metode yang sistematis dan objektif artinya dalam Riset SDM diterapkan beberapa tahap yang merupakan kesatuan logis, sehingga hasilnya dapat diterima oleh semua pihak secara objektif. Penggunaan tahap-tahap dalam riset SDM diperlukan untuk menjamin informasi
yang dihasilkan benar-benar berkualifikasi, akan tetapi tahap-tahap riset SDM tidak berisfat baku, adapun tahap-tahap riset SDM adalah sebagai berikut :
penentuan masalah riset
penentuan desain riset
metode pengumpulan data
metode pengambilan sampel
penulisan dan penyampaian proposal riset
pengumpulan data
pengeditan, pengkodean, tabulasi, dan pemrosesan data
analisis dan penginterpretasian hasil riset
penulisan dan penyampaian laporan akhir
Ada enam langkah dalam proses riset sdm :
1. Menentukan tujuan penelitian dan rumusan masalah
2. Menentukan pendekatan penelitian
3. Memformulasikan desain riset
4. Pengumpulan data (Fieldwork)
5. Menyiapkan dan menganalisis data
6. Mempersiapkan laporan penelitian

B. Pengertian PKL
Pedagang kaki lima (PKL) adalah mereka yang melakukan kegiatan usaha dagangan perorangan atau kelompok yang dalam menjalankan usahanya menggunakan tempat – tempat  fasilitas umum, seperti terotoar, pinggir – pinggir jalan umum, dan lain sebagainya.
Secara umum pedagang kaki lima ( sektor informal ) adalah mereka yang melakukan kegiatan usaha dagang perorangan atau kelompok yang dalam menajalankan usahanya menggunakan tempat – tempat fasilitas umum, terotoar, pinggir – pinggir jalan umum, dan lain sebagainya. Pedagang yang menjalankan usahanya jangka waktu tertentu dengan menggunakan sarana atau perlengkapan yang mudah dipindahkan, dibongkar pasang, dan mempergunakan lahan fasilitas umum sebagai tempat usaha seperti kegiatan pedagang – pedagang kaki lima.
Kegiatan perdagangan dapat menciptakan kesempatan kerja melalui dua cara. Pertama, secara langsung, yaitu dengan kapasitas penyerapan tenaga kerja yang benar. Kedua, secara tidak langsung, yaitu dengan perluasan pasar yang diciptakan oleh kegiatan perdagangan disatu pihak dan lain dengan memperlancar penyaluran dan pengadaan bahan baku (Kurniadidan Tangkilisan, 2002:21 )

C. Ciri – ciri / kriteria Pedagang Kaki Lima (PKL)
Merupakan pedagang yang kadang – kadang juga sekaligus produsen.
Ada yang menetap dilokasi tertentu, ada yang bergerak dari satu tempat ketempat yang lain ( menggunakan pikulan, kereta dorong, tempat atau stan yang tidak permanen serta bongkar pasang ).
Menjajakan bahan makanan, minuman, barang – barang konsumsi lainnya yang tahan lama se.cara eceran.
Umumnya bermodal kecil, kadang hanya merupakan alat bagi pemilik modal dengan mendapatkan sekedar komisi sebagai imbalan atas jerih payahnya.
Kualitas barang – barang yang diperdagangkan relati rendah dan biasanya tidak berstandar.

D. Profil Pedagang Kaki Lima (PKL)
Bapak Dani : penjual es doger
Bapak Puji : penjual rujak manis
Bapak Rokani : penjual es kelapa muda
Bapak Pani : penjual batagor
Bapak Bima : penjual makanan
Ibu sri : penjual nasi pecel madiun

E. Awal mula adanya Pedagang Kaki Lima (PKL)
a. Adanya krisis ekonomi yang melanda Indonesia berdampak pada banyak perusahaan tidak beroperasi lagi seperti sedia kala oleh karena ketidakmampuan perusahaan menutupi biaya operasionalnya sehingga timbul kebijakan pemutusan hubungan kerja (PHK). Hal ini juga memberi kontribusi terhadap peningkatan jumlah pengangguran yang umumnya bermukim di wilayah perkotaan. Demi mempertahankan hidup, orang-orang yang tidak tertampung dalam sektor formal maupun yang terkena dampak PHK tersebut kemudian masuk ke dalam sektor salah satunya adalah menjadi pedagang Kaki Lima .
b. Perencanaan ruang tata kota yang hanya terfokus pada ruang-ruang formal saja yang menampung kegiatan formal. Seiring dengan berjalannya waktu, keberadaan ruang-ruang fomal kota tersebut mendorong munculnya kegiatan informal kota salah satunya di sektor perdagangan, yaitu Pedagang Kaki Lima (PKL) sebagai kegiatan pendukung (activity support).
c. Pertumbuhan penduduk kota yang sangat cepat di Indonesia lebih banyak disebabkan adanya arus urbanisasi dan pembengkakan kota. Keadaan semacam ini menyebabkan kebutuhan lapangan kerja di perkotaan semakin tinggi. Seiring dengan hal tersebut, ternyata sektor formal tidak mampu menyerap seluruh pertambahan angkatan kerja. Akibatnya terjadi kelebihan tenaga kerja yang tidak tertampung, mengalir dan mempercepat tumbuhnya sektor informal. Salah satu bentuk perdagangan informal yang penting adalah Pedagang Kaki Lima.

F. Penghasilan Pedangan Kaki Lima (PKL)
Menurut hasil wawancara dari beberapa pedagang kaki lima yang berdagang di jln. Borobudur yaitu penghasilan meraka setiap harinya dimulai berdagang dari jam 07.00 – 12.000 rata – rata  menghasilkan 900.000 dalam setengah hari. Penghasilan ini merupakan penghasilan utama bagi mereka, dan usaha dagang tersebut adalah pekerjaan utama bagi pedangang di jln Borobudur.

G. Alasan Pedagang Kaki lima Mendirikan Usaha Tersebut
Berdasarkan dari hasil wawancara dengan pedagang kaki lima disekitar jl. Borobudur, alasan mereka mendirikan usaha yang sedang mereka geluti tersebut adalah karena tidak ada pekerjaan lain yang mereka miliki, selain itu hanya keterampilan berdagang yang hanya mereka bisa. Mereka juga mendirikan usaha tersebut karena usaha turun temurun dari orang tua mereka, yang mereka lanjutkan karena mereka tidak memiliki pendidikan tinggi yang dapat mereka gunakan untuk melamar pekerjaaan. Mereka juga mendirikan usaha tersebut karena mereka melihat peluang yang ada disekitar mereka, sehingga dagangan mereka dapat laku diminati oleh konsumen.

H. Modal Utama Pedagang Kaki Lima
Menurut hasil wawancara dengan beberapa pedagang kaki lima disekitar jl. Borobudur, modal yang mereka gunakan pertama untuk mendirikan usaha tersebut bermacam – macam, ada yang mendapatkan modal dari pinjam di Bank. Kerena mereka tidak memiliki penghasilan sebelumnya yang dapat mereka gunakan untuk mendirikan usaha yang mereka geluti. Selain itu mereka juga mendapatkan modal usaha dari join antar teman yang mereka gunakan untuk mendirikan usaha dagang yang hasilnya mereka bagi menjadi dua. Menurut pedang yang meminjam dibank mereka sudah dapat melunasi hutangnya dari hasil berjualan setiap harinya. Pedagang tersebut juga ada yang mendirikan usanya dari hasil modal sendiri.

I. Dampak Positife Pedagang Kaki Lima
Ditinjau dari sisi positifnya, sektor informal Pedagang Kaki Lima (PKL) merupakan sabuk penyelamat yang menampung kelebihan tenaga kerja yang tidak tertampung dalam sektor formal (Usman, 2006:50), sehingga dapat mengurangi angka pengangguran. Kehadiran PKL di ruang kota juga dapat meningkatkan vitalitas bagi kawasan yang ditempatinya serta berperan sebagai penghubung kegiatan antara fungsi pelayanan kota yang satu dengan yang lainnya. Selain itu, PKL juga memberikan pelayanan kepada masyarakat yang beraktivitas di sekitar lokasi PKL, sehingga mereka mendapat pelayanan yang mudah dan cepat untuk mendapatkan barang yang mereka butuhkan. Selain itu juga dapat mengurangi pengangguran dikota tersebut sehingga dapat meningkatkan ekonomi para pedagang tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari – sehari mereka.

J. Kendala yang Dihadapi
Adapun kendala yang dihadapi oleh para pedagang kaki lima tidaklah rumit karena dari pemkot  Malang sendiri maupun dari yang memiliki lahan unutuk ditempati berjualan sudah memberikan izin. Kendala dari pedagang kaki lima ini sendiri yaitu persaingan antar pedagang yang lain yang memiliki jenis dagangan yang sama baik itu pedagang makanan maupun pedagang minuman.
K. Solusi Mengatasi Kendala
Untuk mengatasi kendala yang dihadapi oleh para pedagang di jl. Borobudur, maka solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasinya  yaitu mereka perlu melakukan inovasi terhadap dagangan mereka, meskipun dagangan mereka memiliki jenis yang sama mereka mereka harus memiliki keunggulan sendiri dari produk yang mereka jual. Dengan mereka melakukan inovasi produk yang mereka jual maka tidak akan terjadi persaingan antar pedagang yang ada disekitar jl. Borobudur.


BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif yaitu penelitian yang dilakukan dengan menggunakan riset yang mempunyai sifat deskriptif dan lebih cenderung menggunakan analisis. Proses serta makna lebih cenderung didalam penelitian kualitatif, landasan dari sebuah teori dimanfaatkan untuk pemandu agar fokus dari penelitian sesuai dengan fakta yang ada di lapangan.

B. Teknik Sampel
Teknik sampel yang digunakan adalah teknik non probability sampling yaitu teknik purposiv sampling. Purposive sampling adalah pengambilan sampel secara sengaja sesuai dengan persyaratan sampel yang diperlukan. Dalam bahasa sederhana purposive sampling itu dapat dikatakan sebagai secara sengaja mengambil sampel tertentu (jika orang maka berarti orang-orang tertentu) sesuai persyaratan (sifat-sifat, karakteristik, ciri, kriteria) sampel (jangan lupa yang mencerminkan populasinya). Alasan digunakannya teknik ini adalah karena peneliti ingin mengetahui dampak yang dirasakan pedagang kaki lima dari usaha yang mereka dirikan ini khususnya dalam hal perekonomian. Populasi dalam penelitian ini adalah para pedagang kaki lima yang berada di jl. Borobudur. Untuk sample peneliti memilih 6 orang pedagang makanan dan minuman. Sample tersebut dipilih agar peneliti dapat mengetahui dampak dari mereka mendirikan usaha (PKL) yang mereka geluti saat ini, atau usa.

C. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian yaitu dengan teknik survey langsung ke lapangan yaitu di jl. Borobudur  serta teknik interview (wawancara) yaitu tanya jawab tentang pengaruh adanya usaha yang saat ini didirikannya, untuk mengumpulkan data kualitatif tentang dampak pedagang kaki lima terhadap perekonomian pedagang itu sendiri.  Peneliti juga menggunakan teknik dokumentasi berupa video dengan durasi singkat mengenai proses  wawancara dan sejumlah formasi.
D. Sumber Data
Data Primer
Data primer merupakan sumber data yang diperoleh secara langsung dari sumber utama selama melakukan kunjungan ketempat perkumpulan pedangang kaki lima di jl. borobudur yaitu melalu wawancara langsung.
Data Sekunder
Data sekunder merupakan sumber-sumber data informasi yang dikumpulkan untuk menjadi dasar kesimpulan dari sebuah penelitian.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa mendirikan usaha menjadi pedagang kaki lima sangat bermanfaat bagi pedagang tersebut untuk meningkatkan perekonomian pedagang dan juga dapat menjadi peluang lapangan pekerjaan bagi yang tidak memiliki pekerjaan. Terlebih bagi orang yang tidak memiliki keterampilan atau tidak memiliki pendidikan tinggi mereka dapat mendirikan usaha jualan seperti pedagang kaki lima yang modalnya hanya sedikit dan juga tidak memerlukan membangun tempat untuk berjualan, mereka juga bisa berjualan berkeliling. Selain itu pedagang kaki lima ini juga dapat memberikan manfaat bagi para konsumen yang dekat dengan tempat mereka berjualan untuk lebih muda mendapatkan makanan dan minuman begitu juga dengan pedagang kaki lima yang berkeliling.

B. Saran
Dari hasil riset penelitian yang kami lakukan ,sebaiknya pemerintah daerah lebih memperhatikan pedagang kaki lima, khususnya pedagang kaki lima di kawasan jalan Borobudur kota Malang. Dengan membangun dan memberikan rest area atau tempat khusus bagi pedangan kaki lima agar dapat tertata lebih rapi, serta agar tidak terjadi persaingan antar pedagang kaki lima lainnya. Sehingga dapat membantu peningkatan penjualan para pedagang kaki lima, yang dapat meningkatkan perekonomiannya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar